Minggu, 18 September 2011


 FILSAFAT PENDIDIKAN ESSENSIALISME


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Tidak dipungkiri bahwa Pertumbuhan dan kemajuan teknologi yang begitu pesat, menuntut perubahan di segala bidang tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Mungkin sebagai respon dan keinginan untuk segera survive dan maju. Namun, dalam dunia pendidikan sifat fleksibilitas dalam segala bentuk bisa jadi menimbulkan pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Sehingga menyebabkan pendidikan kehilangan arah. Padahal menurut pandangan kaum esensialis, pendidikan seharusnya bersendikan pada nilai-nilai yang dapat mendatangkan stabilitas yaitu nilai yang memiliki tata yang jelas dan telah teruji oleh waktu.
Pada awalnya Esensialisme merupakan suatu aliran filsafat yang dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Dalam hal ini esensialisme sebagai aliran yang didasari oleh idealisme dan realisme memandang bahwa berubah atau tidaknya suatu pendidikan baik perubahan menjadi lebih maju atau bahkan lebih mundur bukanlah hal yang utama tetapi esensi dari pendidikan atau nilai-nilai pokok itulah yang terpenting, dengan kata lain bergerak dari skill dasar menuju skill yang bersifat semakin kompleks.
Berkaitan dengan hal-hal esensial atau mendasar, seharusnya manusia tahu dan menyadari sepenuhnya tentang dunia dimana mereka tinggal dan juga bagi kelangsungan hidupnya Pada dasarnya esensialisme memang menginginkan agar manusia kembali ke kebudayaan lama.[1] Mengapa demikian? Karena kaum esensialis berpendapat bahwa kebudayaan lama banyak memperbuat kebaikan-kebaikan untuk umat manusia. Kebudayan-kebudayaan lama yang paling mereka pedomani adalah peradaban  semenjak zaman renaisans.
Essensialisme memiliki corak pendidikan yang terikat kepada hal-hal yang fisik, tetapi juga mengutamakan sepiritualitas. Di sisi lain Essensialisme juga mengembangkan   bakat dan minat peserta didik dalam membentuk karakter sesuai dengan perkembangan zaman. Jika demikian, mungkinkah esensialisme itu lebih berasas fleksibilitas melebihi progresifisme?sedangkan esensialisme mempunyai  corak pemikiran  yang idealis dan realistis melebihi idealisme. Bagaimana sebenarnya kedudukan kedua aliran itu sehingga melahirkan essensialisme yang sedemikian rupa?

  1. Rumusan Masalah
Adapun rumusan permasalahan-permasalahan dalam konsep makalah ini yang akan dibahas antara lain:
a.       Bagaimana latar belakang munculnya aliran filsafat pendidikan esensialisme?
b.      Bagaimana esensi pendidikan menurut aliran esensialisme?
c.       Bagaimana implikasi aliran esensialisme dalam pendidikan di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Esensialisme
     Secara etimologi esensialisme berasal dari bahasa Inggris yakni essential (inti atau pokok dari sesuatu), dan isme berarti aliran, mazhab atau paham. Menurut Brameld bahwa esensialisme  ialah aliran yang lahir dari perkawinan dua aliran dalam filsafat yakni idealisme dan realisme. Aliran ini menginginkan munculnya kembali kejayaan yang pernah diraih, sebelum abad kegelapan atau disebut “the dark middle age” (pada zaman ini akal terbelenggu, adanya stagnasi dalam ilmu pengetahuan, dan kehidupan diwarnai oleh dogma-dogma gerejani).Zaman renaissance timbul karena ingin menggantikannya dengan kebebasan dalam berpikir.
Essensialisme dianggap oleh para ahli sebagai ”conservative road to culture” karena ingin kembali kepada kebudayaan lama dan warisan sejarah. Essensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progressive yang memberikan pendidikan dengan penuh fleksibilitas, dimana serba terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Sebaliknya Essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang jelas dan memberikan kestabilan dengan memberikan nilai-nilai terpilih. Nilai-nilai yang dapat memenuhinya adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat korelatif selama empat abad belakangan, dengan perhitungan zaman Renaissance, sebagai pangkal timbulnya pandangan-pandangan essensialisme awal.[2]
Essensialisme pertama-tama muncul pada awal tahun 1930, yang dipelopori oleh William C Bagley, Isaac L Kandel dan Frederick Breed. Dan pada tahun 1938 mereka mendirikan organisasi dalam bentuk komite esensialis untuk pertimbangan pendidikan di Amerika. Organisasi utama kedua didirikan pada tahun 1950an berupa Dewan Pendidikan Dasar di Amerika dengan juru bicara Himpunan organisasi ini adalah Mortimer Smith dan Arthur Bestor. [3]
Esensialisme merupakan suatu aliran filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di sekolah-sekolah yang penuh fleksibilitas, terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu sehingga pendidikan seperti ini cenderung mengabaikan kurikulum yang telah ditentukan dan yang menjadi tradisi sekolah. Oleh karena itu  esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan, memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Para esensialis berpendapat bahwa pengalaman-pengalaman yang diberikan kepada anak harus memiliki nilai esensial dan juga harus memusatkan perhatian kepada kurikulum yang dirancang untuk menanamkan keterampilan-keterampilan dasar yang seharusnya dimiliki oleh anak.

0 komentar: